mungkin jarum jamku yang tidak mengerti, betapa waktu adalah kesungguhan, aku membenci keterlambatan tapi bukan menghamba kepada kecepatan, turuti semampuku, tak perlu ku beriba-iba dengan kemacetan dan keluangan yang selalu saja mempermainkan jalannya perasaan, tak akan luluh detak jantung karena airmata dan tak akan runtuh penyangga tubuh karena isak yang meledak, sebab kita bukan luka-luka yang tersusun dengan paksa.
ah sebentar, tadi malam telah kutitipkan mawar kepada ibumu, namun itu bukanlah ceritia keromantisan yang akan kita umbar di depan meja makan atau jalanan, aku ingin kau merawatnya dan menjadikan ia bagian dari tamanmu, sebelum kau berjanji tanpa bukti kepadaku, akan menjagaku sampai matiku atau matimu.
tanya kepada bagian tubuhmu, semoga isi kepalamu mampu menjawab, apakah kau perempuan yang kumaksud?
Kamis, 22 Juli 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)




Tidak ada komentar:
Komentar baru tidak diizinkan.